Jumat, 03 November 2017

Semarang Kaline Banjir..

Hari ini aku bercerita tentang sebuah kota yang mengawali perjalanan hidupku,  inilah kota Semarang
*Semarang Kaline Banjir*....
kata yang sering aku dengar diiringi alunan musik, adalah penggalan lirik lagu dari Waljinah yang berjudul *Jangkrik Genggong*, dan aku gak tau apa artinya,
Aku berangkat dari Surabaya pukul 06.00 wib menggunakan kereta api dari Stasiun Pasar Turi untuk menemui saudaraku di Kota Semarang, perjalanan ku melewati Gresik, Lamongan, Tuban, dan seterusnya sampai tiba di Stasiun Tawang Semarang sekitar pukul 10.15.
St. Tawang - Semarang

Kabar mengejutkannya adalah ternyata saudaraku yang si kota Semarang berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri upacara kematian kerabat mereka.

Karna aku tak punya tujuan akhirnya aku singgah di sebuah penginapan di daerah Semarang untuk menginap satu hari, aku menginap di dekat Stasiun Tawang dimana bangunannya masih merupakan bangunan stasiun kuno.

GEREJA MBLENDUK
Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Immanuael atau orang sekitar biasa menyebutnya dengan Gereja Mblenduk, adalah bangunan gereja kuno yang dibuat pada tahun 1753, pastinya tahun itu tahun dimana Indonesia masih belum merdeka dan masih di jajah Belanda, jadi arsitekturnya masih dengan gaya khas Neo-Klasik dan tampak kontras dengan bangunan di sekitaranya.
Gereja Mblenduk - Semarang
Kota Tua - Semarang







Gereja ini disebut Gereja Mblenduk karena gereja yang berada di jl Letjend Suprapto No. 32 ini berbentuk seperti kubah atau orang jawa bilangnya dengan kata mblenduk. Gereja ini berada di kawasan kota lawas dan bila malam tiba bentuk dan lampu-lampu penerangan jalan serasa layaknya kita berjalan di sebuah kota daerah Eropa

LAWANG SEWU
Hari semakin sore di kota semarang, sebelum senja tiba aku beranjak untuk berwisata kembali di situs kuno iconik kota semarang, yaitu lawang sewu atau dalam bahasa indonesia disebut seribu pintu, ya lawang sewu ini adalah salah satu bangunan kuno yang juga peninggalan belanda, sebenarnya pada masa belanda lawang sewu adalah kantor perusahaan kereta api pada jamannya.
Lawang Sewu ini di dirikan pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1907, pada waktu itu Lawang Sewu diperuntukan perkantoran NIS (Nederlands(ch)-Indische Spoorweg) atau Kantor Pusat Perkeretaapian Semarang kala itu.
Pembangunan Lawang Sewu dirancang oleh arsitek asli belanda bernama Prof, Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag yang berdomisili di Amsterdam, waktu itu perancangan cetak biru dilakerjakan di Belanda dan dibawa ke Semarang baru pembuatannya diselesaikan.
Lukisan - Lawang Sewu
Lawang Sewu


Kamis, 04 Mei 2017

"CERIA"

Haaah, aku terlalu banyak terlena dengan ingatku, kali ini aku mau beranjak dari tempat ini, tak tau kemana yang penting aku bisa mencari tempat berteduh. Hari-hari yang aku lalui adalah hari yang penuh dengan sesuatu yang masih misteri, aku tak tahu kapan aku akan kembali pulang.

Entah mengapa kegagalanku seakan pudar dari ingatanku, aku melupakan nya, dan perasaan ini membuat aku merasa lebih tenang, apa yang membuat aku gelisah seakan tak ada lagi. "Ya", hari ini aku merasa lebih gembira, tanpa menyisakan kekecewaan yang berarti.

Hari yang indah dengan langit yang biru, pemandangan disebrang sana terlihat berjajar tukang sol sepatu dan beberapa tukang semir, mereka berjajar dengan rapi sederet dengan yang lainnya.

Aku berjalan sembari melihat tukang-tukang sol sepatu bekerja, tetiba terdengar suara aneh "Grubyak", beberapa orang langsung berkerumun, akupun ikut mengangkat seorang wanita bersepeda matic itu , sebuah kecelakaan tunggal.

Kuhantarkan ia ke rumah sakit terdekat bersama beberapa orang yang berada di dalam mobil pickup, tertulis Rumah Sakit PHC-Surabaya. Kami bersama mengangkat wanita keatas tempat tidur dan membawanya ke UGD.

Kami menunggu lama bersama, lambat laun satu per satu merekapun pulang, sampai pada akhirnya tinggal aku sendiri. Dokter keluar dari UGD dan bertanya kepadaku " Bapak Keluarganya?", "Ehm Bukan, Eh iya saya Familynya" Timpalku, "Oh ya Pak" kata Dokter lagi, "Panggil mas saja pak", kataku kembali. "Hahahaha, jadi gini mas kita tidak bisa melakukan prosedur selanjutnya jika tidak ada persetujuan dari keluarga",Kata Dokter padaku. "Oke pak gak papa, aku akan menandatangani-nya". Sejenak aku terdiam, karena bill tertera Rp. 10.000.000,- . "What?????, pak ini gak salah? cuma daging ngelupas secuil ajah sepuluh juta?", Kataku. "Benar mas itu sekalian biaya rawat inap dan obatnnya", balasnya kembali.

Dengan hati lapang aku memberanikan diri menandatangani-nya, aku tak berfikir uang dari mana akan aku dapatan namanya nanti?. yang aku tahu dia harus di operasi secepat mungkin. Tanda tangan kontrak sudah aku lakukan, kali ini dokter langsung bertindak sekitar 6 jam lebih aku menunggu, dan akhirnya wanita itupun keluar bersama dokter dan beberapa perawat, hanya senyum dari wanita tadi yang aku lihat, dalam hati sedikit berujar "Hemm, senyumnya ambigui? ini siapa yang bayar billmu nak?", tak lama aku membalas senyumnya.

Sesampainya ia diruang rawat inap, aku berjalan sekedar menanyakan keadaanya "Bagaimana keadaanmu mba?" , "Lumayan sehat mas, eh makasih yah udah tolongin aku tadi, ini aku hanya operasi jahitan di kaki ajah kok, sekali lagi makasih ya" katanya, "iya mbak gak papa", kataku. "Eh nama kamu siapa?", tanya-nya. "Aku Dony mbak", kataku "Kamu siapa mbak?" katanya, "Namaku Dinda", "Oh, Mbak Dinda?", tanyaku. "Panggil Dinda aja mas" katanya perlahan.