Jumat, 12 April 2019

BILA NANTI SAATNYA ...

Hari ini aku terdiam dalam keramaian,
mendengarkan sepenggal lirik lagu "Bila Nanti Saatnya Tlah Tiba"...
Sabtu,13 April 2019 jam 11.40 siang, aku merasa seolah apa yang aku harapkan mudah sekali untuk tercapai, semua yang mau kutuju selah dekat dengan langkah kaki ini.
Sudah terlalu lama aku berjalan dengan ambisi hati, berjalan sendiri tanpa memperhatikan rasa namun hanya memetingkan logika, hari ini aku merenung untuk membagikan arti sebuah rasa. Seperti Resolusi untuk tahun ini , bukannya aku meminta punya kendaraan baru, jabatan baru, atau 'teman baru', tahun ini aku hanya belajar memaknai kehidupan yang telah aku lalui, hari hari yang sedang aku jalani, dan hari-hari esok yang aku nantikan.
'Rasa' memang penting namun harus diimbangi dengan 'Logika', kalau bisa digambarkan seolah mereka punya berat yang sama , aku berandai bila keduannya ditimbang oleh Dewi Themis seorang Dewi Yunani yang berasal dari Orkal Delphi dan sebagai simbol Justice di berbagai Pengadilan di seluruh dunia sampai sekarang.
Ilustrasi Dewi Themis: www.jatengtime.com

Gambaran ini menggugahku untuk mengandaikannya, bagaimana jika Rasa dan Logika ditimbang oleh Dewi Keadilan yang mebawa pedang dan siap untuk menebah dengan mata tertutup sisi lain yang terlalu berat tanpa melihatnya, tanpa melihat status sosial, hubungan kekerabatan, dan sebagainya, untuk membuat semuanya seimbang dan menjadikan keadilan. Yah, mungkin terlalu jauh perandaianku, namun esok aku harus bisa menyeimbangkan antara Rasa dan Logika agar keduanya seimbang, dan aku tidak berjalan dengan timpang.
Salam.

Jumat, 03 November 2017

Semarang Kaline Banjir..

Hari ini aku bercerita tentang sebuah kota yang mengawali perjalanan hidupku,  inilah kota Semarang
*Semarang Kaline Banjir*....
kata yang sering aku dengar diiringi alunan musik, adalah penggalan lirik lagu dari Waljinah yang berjudul *Jangkrik Genggong*, dan aku gak tau apa artinya,
Aku berangkat dari Surabaya pukul 06.00 wib menggunakan kereta api dari Stasiun Pasar Turi untuk menemui saudaraku di Kota Semarang, perjalanan ku melewati Gresik, Lamongan, Tuban, dan seterusnya sampai tiba di Stasiun Tawang Semarang sekitar pukul 10.15.
St. Tawang - Semarang

Kabar mengejutkannya adalah ternyata saudaraku yang si kota Semarang berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri upacara kematian kerabat mereka.

Karna aku tak punya tujuan akhirnya aku singgah di sebuah penginapan di daerah Semarang untuk menginap satu hari, aku menginap di dekat Stasiun Tawang dimana bangunannya masih merupakan bangunan stasiun kuno.

GEREJA MBLENDUK
Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Immanuael atau orang sekitar biasa menyebutnya dengan Gereja Mblenduk, adalah bangunan gereja kuno yang dibuat pada tahun 1753, pastinya tahun itu tahun dimana Indonesia masih belum merdeka dan masih di jajah Belanda, jadi arsitekturnya masih dengan gaya khas Neo-Klasik dan tampak kontras dengan bangunan di sekitaranya.
Gereja Mblenduk - Semarang
Kota Tua - Semarang







Gereja ini disebut Gereja Mblenduk karena gereja yang berada di jl Letjend Suprapto No. 32 ini berbentuk seperti kubah atau orang jawa bilangnya dengan kata mblenduk. Gereja ini berada di kawasan kota lawas dan bila malam tiba bentuk dan lampu-lampu penerangan jalan serasa layaknya kita berjalan di sebuah kota daerah Eropa

LAWANG SEWU
Hari semakin sore di kota semarang, sebelum senja tiba aku beranjak untuk berwisata kembali di situs kuno iconik kota semarang, yaitu lawang sewu atau dalam bahasa indonesia disebut seribu pintu, ya lawang sewu ini adalah salah satu bangunan kuno yang juga peninggalan belanda, sebenarnya pada masa belanda lawang sewu adalah kantor perusahaan kereta api pada jamannya.
Lawang Sewu ini di dirikan pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1907, pada waktu itu Lawang Sewu diperuntukan perkantoran NIS (Nederlands(ch)-Indische Spoorweg) atau Kantor Pusat Perkeretaapian Semarang kala itu.
Pembangunan Lawang Sewu dirancang oleh arsitek asli belanda bernama Prof, Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag yang berdomisili di Amsterdam, waktu itu perancangan cetak biru dilakerjakan di Belanda dan dibawa ke Semarang baru pembuatannya diselesaikan.
Lukisan - Lawang Sewu
Lawang Sewu


Kamis, 04 Mei 2017

"CERIA"

Haaah, aku terlalu banyak terlena dengan ingatku, kali ini aku mau beranjak dari tempat ini, tak tau kemana yang penting aku bisa mencari tempat berteduh. Hari-hari yang aku lalui adalah hari yang penuh dengan sesuatu yang masih misteri, aku tak tahu kapan aku akan kembali pulang.

Entah mengapa kegagalanku seakan pudar dari ingatanku, aku melupakan nya, dan perasaan ini membuat aku merasa lebih tenang, apa yang membuat aku gelisah seakan tak ada lagi. "Ya", hari ini aku merasa lebih gembira, tanpa menyisakan kekecewaan yang berarti.

Hari yang indah dengan langit yang biru, pemandangan disebrang sana terlihat berjajar tukang sol sepatu dan beberapa tukang semir, mereka berjajar dengan rapi sederet dengan yang lainnya.

Aku berjalan sembari melihat tukang-tukang sol sepatu bekerja, tetiba terdengar suara aneh "Grubyak", beberapa orang langsung berkerumun, akupun ikut mengangkat seorang wanita bersepeda matic itu , sebuah kecelakaan tunggal.

Kuhantarkan ia ke rumah sakit terdekat bersama beberapa orang yang berada di dalam mobil pickup, tertulis Rumah Sakit PHC-Surabaya. Kami bersama mengangkat wanita keatas tempat tidur dan membawanya ke UGD.

Kami menunggu lama bersama, lambat laun satu per satu merekapun pulang, sampai pada akhirnya tinggal aku sendiri. Dokter keluar dari UGD dan bertanya kepadaku " Bapak Keluarganya?", "Ehm Bukan, Eh iya saya Familynya" Timpalku, "Oh ya Pak" kata Dokter lagi, "Panggil mas saja pak", kataku kembali. "Hahahaha, jadi gini mas kita tidak bisa melakukan prosedur selanjutnya jika tidak ada persetujuan dari keluarga",Kata Dokter padaku. "Oke pak gak papa, aku akan menandatangani-nya". Sejenak aku terdiam, karena bill tertera Rp. 10.000.000,- . "What?????, pak ini gak salah? cuma daging ngelupas secuil ajah sepuluh juta?", Kataku. "Benar mas itu sekalian biaya rawat inap dan obatnnya", balasnya kembali.

Dengan hati lapang aku memberanikan diri menandatangani-nya, aku tak berfikir uang dari mana akan aku dapatan namanya nanti?. yang aku tahu dia harus di operasi secepat mungkin. Tanda tangan kontrak sudah aku lakukan, kali ini dokter langsung bertindak sekitar 6 jam lebih aku menunggu, dan akhirnya wanita itupun keluar bersama dokter dan beberapa perawat, hanya senyum dari wanita tadi yang aku lihat, dalam hati sedikit berujar "Hemm, senyumnya ambigui? ini siapa yang bayar billmu nak?", tak lama aku membalas senyumnya.

Sesampainya ia diruang rawat inap, aku berjalan sekedar menanyakan keadaanya "Bagaimana keadaanmu mba?" , "Lumayan sehat mas, eh makasih yah udah tolongin aku tadi, ini aku hanya operasi jahitan di kaki ajah kok, sekali lagi makasih ya" katanya, "iya mbak gak papa", kataku. "Eh nama kamu siapa?", tanya-nya. "Aku Dony mbak", kataku "Kamu siapa mbak?" katanya, "Namaku Dinda", "Oh, Mbak Dinda?", tanyaku. "Panggil Dinda aja mas" katanya perlahan.

Selasa, 07 Maret 2017

"BERTEDUH"

Pagi kota Surabaya,
Pagi ini perutku keroncongan lagi, sembari berjalan menyusuri keramaian surabaya dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi aku hendak mencari warung makan yang sudah buka di jam 06.00 pagi. Tak kulihat warung yang sudah buka, yang ada bapak penjual bubur ayam.
Pikirku dalam hati "Aku sedang ingin makan nasi dan Mendoan, namun ini bukan kampungku, tak ada makanan seperti itu",
bapak itu belum terlalu tua mungkin terpaut 15 tahun lebih tua dariku.
"Pak bubur ayamnya satu", kataku, "Ya dek" sahutnya.
Aku menarik kursi plastik dibawah meja untuk membetulkan posisi agar dapat duduk dengan nyaman, sembari aku menunggu datanglah beberapa prempuan muda sebaya denganku yang baru selesai berolahraga, mereka bertiga, yang pertama berambut pendek, yang kedua berbadan gemuk, dan yang terakhir berambut panjang dengan tinggi semampai. Tiga orang perempuan tadi memesan makanan di bapak penjual bubur tadi, ternyata mereka makan di tempat juga, mereka duduk disampinku dalam satu meja denganku, ya! mereka duduk disampingku bercerita dengan bahasanya yang khas "logat suroboyoan", aku tak khayal hanya diam mendengar mereka dengan logatnya yang terkadang aku tak paham yang mereka bicarakan?, aku terkadang berfikir mungkin mereka sedang mencari perhatianku dengan cara komunikasi mereka namun aku tak paham?, ya itu hanya khayal ku.

"Ini mas buburnya" kata pak penjual bubur dengan membawa mangkok khas bergambar ayam jago, "Owh ya pak, terimakasih", akhirnya aku bisa makan dengan nyaman di bawah gedung-gedung perkotaan ini, "Terimakasih ya Tuhan buat berkatMu hari ini."

Setelah selesai aku memakannya, aku mengambil air putih dalam cerek yang disediakan disamping gelas plastik, untuk meminumnya. Kenyangnya perut ini, aku sampai sedikit bersendawa lirih karena malu bila terdengar para wanita tadi, aku berdiri dan menanyakan jumlah harga untuk di bayarkan kepada pak penjual bubur tadi. "Berapa pak?", "sepuluh ribu saja mas" kata si penjual.
"Ini pak" aku memberikan uang pas kepada bapak itu.
"Terimakasih ya dek", katanya, "Eh pak, mau tanya, kalau jalan embong malang itu dimana yah?", tanyaku, "Jalan ini lurus ajah, nanti ikuti jalan belok kiri, itu sudah jalan embong malang"
"Owh, tinggal bentar lagi ya pak?, yaudah makasih ya pak"

Aku menyusuri jalan ini di pagi hari, tertulis jalan Tunjungan Plaza, "Wow, Mungkin ini jalan yang sering dinyanyikan itu?", "Rek ayo rek mlaku-mlaku neng tunjungan..." sembari berjalan aku iringi dengan bernyanyi.

Tiba di jalan Embong Malang tempat yang aku tuju, yaitu tempat yang disarankan orang tuaku dari kampung.
Ud. Sejahtera, salah satu toko buku terkenal di Surabaya di eranya, jalan yang aku tuju benar dan tertulis dengan nomor 13, aku berfikir dalam, amplop besar berwarna cokelat yang kubawa dengan langkah yang yakin ini, pasti akan berhasil, aku akan diterima sebagai setidaknya seorang penjaga buku.

Jalan Embong Malang nomor 13, Surabaya. yang aku temui tiggallah gedung menjulang tinggi dengan penjagaan security dan anjing penjaganya, tertulis "Hotel J.W. Marriot" , aku terdiam sejenak mungkin aku telah tersesat. Aku memberanikan untuk bertanya pada security hotel, "Pak, jalan Embong Malang nomor 13, bener disini?", "Bener mas!" jawabnya singkat. "Loh bukannya disini toko buku?" tanyaku kembali. "Oh, gak sepiro tahu saya mas, yang saya tahu dulu memang disini perkampungan dan lahannya sudah dibeli", timpalnya. "Oh ya sudah kalo begitu, makasih ya pak".
Kini aku bagaikan tak punya arah di kota ini, tempat yang aku tuju sudah tak ada, aku bingung apakah aku harus kembali ke kampungku untuk bertani singkong, yang hasilnya hanya untuk makan setiap hari?, aku tak tahu lagi.

Lama aku menyusuri jalan ini hingga habis, aku hanya berjalan lurus, meninggalkan tempat ini ke utara, terus ke utara, melewati sebuah perempatan, sampai aku melihat suatu bangunan yang menjulang tinggi, itu hanya bangunan yang berbentuk seperti pensil menengadah ke atas, aku mencoba kesana dengan rasa penasaranku, sampai akhirnya melihatnya lebih dekat, aku melewati beberapa lampu merah untuk berjalan menyebrang sampai ke pintu gerbang itu, semakin aku mendekat aku melihat tulisan "Tugu Pahlawan-Monumen 10 November" , ini merupakan tempat bersejarah di  Surabaya, ya tugu pahlawan.

Hari semakin siang dan semakin panas aku sedikit kecewa, aku duduk beralaskan trotoar disamping "Tugu Pahlawan", aku tak tahu arah mana yang akan aku tuju, aku hanya ingin mecari tempat untuk berteduh.

Selasa, 14 Februari 2017

Stasiun Gubeng


Seandainya kau ada, aku ingin melambaikan tangan dari sini, diperbatasan ini, seperti biasanya aku melambaikan tanganku untuk meninggalkan orang yang aku cintai.

Pengalaman yang tak seperti biasanya setelah 5 tahun lalu, aku tidak pernah lagi menaiki kereta api, kali ini aku melihat pemandangan yang berbeda.

Stasiun Gubeng, adalah salah satu stasiun di kota Surabaya yang merupakan stasiun terbesar di kota ini. Pintu masuk dan akses menuju stasiun Gubeng Baru adalah jalan memutar dari stasiun lama melewati pertigaan sebelum POM bensin dari arah utara ke kiri, mengikuti arah lurus sampai jalan Gubeng Masjid.

"Parkir Kendaraan"
Di pintu gerbang stasiun telah tertulis jalan masuk untuk kendaraan beroda empat dan di sisi lain tertulis jalan masuk kendaraan beroda dua, untuk pintu keluar dan masuk kendaraan beroda empat cuma dipisahkan dengan pembatas kira-kira sekitar 40cm dari paving block, begitu pula dengan jalan masuk kendaraan beroda dua, disisi tengah antara pembatas jalan terdapat penjaga karcis parkir yang berjaga 24 jam. 

Untuk tarif parkir roda dua adalah Rp. 3.000,- , untuk 1 hari atau dalam 24 jam Rp. 9.000,- , untuk hari kedua dan seterusnya dikenai biaya + Rp. 10.000,- , jadi bila kita parkir 2 hari akan dikenai biaya Rp.19.000,- , bila kita parkir kendaraan 3 hari akan dikenai Rp. 29.000.-.

"Porter"
Sebagian anak yang lahir di tahun 2000'an pasti asing dengan kata porter. Porter merupakan salah satu profesi yang sering terlihat di terminal, stasiun, dan mungkin di pelabuhan. Ia merupakan orang-orang yang perkasa, karena mampu membawa lebih dari satu sampai dua koper sekaligus. "Ya", mereka menawarkan jasa untuk membawakan barang-barang penumpang untuk ditaruhkan ke dalam bagasi.  Sebagian dari kita terkadang mengacuhkan mereka namun kali ini ia menjadi pusat perhatianku, ia adalah seorang tua yang cukup kuat untuk membawa barang-barang orang lain,
 berbaju orange bernomor punggung 67, ia berjalan menyusuri jalan panjang disisi pinggir kereta untuk membawa beberapa koper dengan bantuan troli. itu dia, mataku tertuju ke dia, namun aku lagi-lagi tak bisa berkata-kata, aku hanya berandai jika ku membawa barang banyak dan berlebih mungkin aku akan membutuhkan bantuannya.
Semakin jauh ia berjalan membawa troli itu, sejenak aku berfikir, mungkin ibu itu si pemilik barang?, mungkin juga ibu itu ingin melancarkan rejeki pak tua tadi!. Pada setiap tempat pemberhentian kendaraan, ia mempunyai ciri khas dan penanda yang berbeda sebagai identitas bagi mereka yang berprofesi sebagai porter, ada yang memakai hem seragam dan ada yang mengenakan rompi seragam, menurut saya saran agar lebih aman menggunakan jasa porter yang berseragam, daripada yang tidak, karena kita akan lebih mudah mengenali mereka yang berseragam daripada yang tidak. Porter yang berseragam mempunyai komunitas daerahnya sendiri, komunitas ini membantu agar kita dapat meminimalkan resiko kehilangan barang.
" Kereta LOGAWA"
Aku menyusuri lorong pejalan kaki di sisi kanan kereta Logawa, kereta yang akan aku naiki ke Jawa Tengah kampungku, sekitar pukul 10.45 aku duduk di gerbong 4 nomor D24. aku duduk dengan empat orang lainnya yang juga menuju arah yang sama, yaitu ke barat. Di dalam kereta aku merasakan perbedaan yang sangat berbeda dari 5 tahun lalu, disini sudah tidak ada lagi pedagang-pedagang mainan yang berjualan sambil berteriak "mobile-mobile" atau "Aqua-Aqua" dsb. Suasana kali ini sungguh hening yang terdengar hanya deruan roda kereta dan bunyi  "Tut-Tut" bell kereta api. Selain itu, kami merasa nyaman dengan AC yang menyala dan mendinginkan ruangan pada setiap gerbong, tidak hanya itu, kami juga merasa aman karena tak ada lagi pengamen ataupun pengemis yang meminta uang secara paksa. Kereta ini berjalan sangat jauh menyusuri sawah-sawah, perkotaan, lembah-lembah, dan beberapa terowongan untuk menembus gunung-gunung atau bukit-bukit yang akan dilalui. Perjalanan ini terasa sangat lama, beberapa kali aku berhenti di stastiun-stasiun yang cukup besar, dari Surabaya-Gubeng menuju ke Mojokerto, Jombang, Kertosono, Nganjuk, Saradan, Madiun, Kedunggalar, Sragen, Purwosari, Klaten, Lempuyangan, Wates, Purworejo, Kutoarjo, Kutowinangun, Kebumen, Karanganyar, Gombong, sampai dengan Sumpiuh.

Pukul 19.30 sekitar delapan jam perjalanan yang aku lalui untuk sampai menuju kota kecil berjuta kenangan, kampungku tercinta kota Sumpiuh kota kecil di daerah selatan kab. Banyumas.


Rabu, 25 Januari 2017

"LAYANG-LAYANG"

Aku terbangun dari lelapku pagi ini, hari itu masih subuh sekitar jam 04.00 pagi. Aku terbangun oleh suara yang sama, suara dari corong masjid, aku membuka mataku dan melihat orang-orang di sampingku sudah memakai baju kain berwarna putih-putih, sekali lagi mereka menunaikan ibadahnya.

Aku beranjak untuk bersandar dan duduk di salah satu pilar masjid itu, akupun berdoa sesuai dengan keyakinanku untuk bersyukur karna aku telah bangun pagi ini. Aku masih bisa bangun dan menghela nafasku, udara yang cukup hangat di pagi hari tak seperti biasa seperti sebelumnya, seperti yang aku rasa dikampung halamanku.
" Selamat pagi dunia , selamat pagi kota tua Surabaya!." perkataanku pada alam sekelilingku.
Pagi-pagi buta belum banyak orang bersliweran di jalan raya, aku hanya melihat pejalan kaki, dan pedagang sayuran yang sudah lalu lalang , namun para pebisnis dan elit-elitnya belum nampak. Aku melihat suasana yang cukup memberiku semangat karena kegigihan para penjual sayuran yang bangun di pagi buta.
Aku meminjam kamar mandi masjid untuk beranjak mandi, cuci kaki dan sekedar menggosok gigi, pagi ini aku teringat saat aku pergi ke Semarang untuk menjenguk kerabat disana, aku juga pernah mengalami hal yang sama, berteduh di rumah Sang Pencipta, ya  masjid di sekitaran daerah Semarang. Kala itu aku berkunjung ke rumah kerabatku yang seorang penjaga sekolahan dan mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penjual makanan.
Ingatanku masih terngiang saat-saat aku di Semarang dan kini aku sudah berada di Surabaya, hidup ini seperti layang-layang kesana kemari tanpa adanya kepastian, terbang ditiup angin dengan keraguan.
Aku tak mau selalu hidup dengan keraguan ini, aku harus bisa memantapkan jiwaku dan melangkah maju, aku akan meraih tujuanku di kota ini..........

Jumat, 20 Januari 2017

"ARAH"

Mengapa aku selalu berfikir tentang keadaan ketika pulang?, hari mulai menunjukan pukul 3 sore, semakin lama aku berjalan dan semakin jauh aku melangkah, jauh dari rumah dan rasa nyaman.
"Kruyuk kruyuk" perutku mulai berbunyi, hari ini aku belum makan sama sekali, aku mencari warung makan yang ada di sekitar kota ini, ya kota bersejarah, kota yang jauh dari kampungku. Kota Pahlawan julukannya, disini banyak pahlawan kemerdekaan yang rela berkorban untuk negeri, persinggahanku dimulai disini dikota Surabaya,

"Pak, beli nasi.." kataku
" ada sop, lodeh, sayur asem, sampean mau yang mana?" sahutnya, "lodeh saja pak" timpalku padanya, "Iwak e Nopo mas..?", "Telor saja pak, gak pake Iwak!",
"berapa pak?..." tanyaku, " iki wolungewu mangatus (Rp 8500,- )" katanya, " makasih pak.."
dipinggir jalan ini aku berteduh, sembari aku memakannya aku melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi, aku sedikit merasa seret karna cara makanku yang tergesa-gesa, "uhuk..uhuk..uhuk"
aku tersedak , orang menyebutnya cegukan. Aku meminum air yang aku beli dari penjual di warung kopi tadi siang, aku merasa lega dan makanan ini pun aku habiskan dengan lahap.

Aku berjalan kembali sampai kedepan bangunan berbentuk kubah berlambang bulan sabit, bangunan itu bertuliskan Al-Ikhlas,
"Moggo mas..", kata orang yang akan menuju bangunan itu, ya disini langkahku terhenti di bangunan masjid. Sejenak aku menghentikan langkahku dan memandang mereka membersihkan diri. Suara itu berkumandang dari pengeras suara masjid, dan kali ini aku teringat dengan kata-kata temanku,
"Roni, hidup itu harus penuh dengan ke-ikhlasan , kata orang jawa itu 'legowo', itu sing gawe aku selalu berbisik pada tanah untuk mengadu pada-Nya yang diatas"
aku melihat orang-orang yang berbisik pada tanah , mereka bersujud kepada yang diatas. Aku mulai merenung, terkadang aku merasa iri kepada mereka yang setiap lima kali sehari berbicara pada Tuhan, aku merasa iri bukan karna kepercayaanku yang berbeda, namun karna ketaatan mereka yang begitu setia.

Aku mulai berfikir untuk beristirahat sejenak sampai esok kembali, sembari aku merenung aku beristirahat di masjid ini , meskipun aku bukan penganutnya namun aku kembali melihat kedamaian di tempat ini, kedamaian yang membuat aku melihat kemana arah manusia seharusnya, dan aku menemukan arahku yang hilang, bukan tentang arah pulang, namun arahku menuju masa dimana aku akan pergi ke keabadian kelak.

"Ah, aku akan bermalam disini sambil menunggu pagi". kataku dalam hati.

Kamis, 12 Januari 2017

"PULANG"

Aku selalu merindukan untuk kembali pulang.

Tempat dimana aku dapat menyandarkan punggungku, berteduh ketika terjadi hujan ataupun cuaca panas diluar ruangan, pulang ke suatu tempat dimana aku merasa lebih nyaman.

Aku masih duduk di perimpangan jalan ditempat dimana aku telah menyebrang, dari jalan ini aku membetulkan tali sepatuku yang terlepas. Aku kembali berdiri melangkahkan kaki, satu atau dua langkah menuju ke dia. Hari ini memang terasa lebih panas dari sebelumnya, "Pak Aqua-nya satu!" pintaku kepada penjual asongan di pinggir jalan, aku meneguk aqua itu aku berfikir sejenak ini bukan aqua namun ini air mineral dengan merk lain. aku tersadar dan sedikit tersenyum, aku berfikir dan berkata di dalam hati "Memang orang Indonesa, punya kebiasaan juga Indonesia banget, segala macam air mineral dibilang aqua".

"Ah, Segarnya...." rasanya seperti mendapatkan berkah yang luar biasa di siang hari terik seperti ini. Rasa syukurku kembali terusik dengan gundah ini, gundah yang selalu menghantuiku, aku kembali teringat dengan suatu tempat dimana aku ingin kesana, "Aku ingin pulang" kataku lirih. Aku selalu ingin kembali ketempat dimana aku bisa mersakan hangat dan tidak lagi khawatir dengan dunia luarku. Ya itu dia, aku ingin kembali ke suasana itu, aku bisa merasa bangga dengan diriku yang dulu, aku pernah melaluinya dimana aku merasakan tempat yang aman, nyaman, membuatku selalu tertawa, aku tak pernah berfikir kesusahan hari esok. Aku ingin pulang ke tempat itu, suatu tempat yang nyaman dan indah itu.

Jumat, 16 Desember 2016

"SENDIRI DALAM KESENDIRIAN"


Terkadang aku merasa seperti tidak ada orang, melihat lalu lintas dipersimpangan ramai disudut penyebrangan, dibawah lampu merah-kuning-hijau "traffic light" mereka menyebutnya.
disini aku bisa memandang orang lalu lalang bersepeda ontel, berkendara motor, menumpang bus kota, menaiki mikrolet, dan banyak dari mereka yang menyetir mobil pribadi. Para pengguna jalan raya melajukan kendaraannya dengan cepat, seolah mengejar waktu sampainnya mereka di tempat tujuan mereka. 
Aku berfikir sejenak mereka mau pergi kemana ?. "apakah mereka pergi ke kantor?, tempat wisata?, mungkin sebagian mereka telat untuk datang ke sekolah?, atau mungkin mereka dikejar janji dengan para kaum elite di kota, pebisnis? atau orang pemerintahan?, ah sudahlah perjalananku sebagai musafir masih panjang. Aku harus menyebrang jalan ini dengan ketertiban dan peraturan yang diberlakukan."

Bunyi sirine lampu apil pertanda bahwa ini adalah situasi yang urgent dan berarti penting, "totot totot totot totot" terdengar menghentikan semua pengguna jalan raya, aku perlahan melangkahkan kakiku lagi berjalan menyusuri cat berwarna putih bergaris, ya zebra cross tempat dimana pejalan kaki menyusuri jalan raya. Bagaimana rasanya berada di tengah sana , aku menghayal kalau aku berdiri dengan payung di tengah sana?

Perlu keberanian untuk berada di tengah sini menghadang semua kendaraan yang seolah tak mau berhenti, ini adalah jalan yang lebar masih jauh kesana! keujung jalan.
Kaki ku terus berjalan sampai ujung, disisi ini pun aku melihat pemandangan yang sama, suasana yang sama, melihat mereka dalam kesibukan.
KESIBUKAN dalam perkotaan, seolah seperti keinginan, keharusan, ke-ambisian, dengan konotatif kata yang buruk, namun disisi ini aku baru menyadari tentang kesibukan, ia adalah waktu kita yang tidak kita maknai, waktu kita yang terabaikan, manusia hidup hanya dalam waktu yang singkat, kita tidak  pernah akan melewati waktu yang sama, yang kita lewati adalah suasana dalam perhitungan yang sama, namun waktu tidak!
Sejenak kita mengesampingan kesibukan, karna ramai itu bukan berarti dalam kebersamaan, namun ramai juga dapat berarti kesendirian, terkadang aku tak bisa melihat tawa ku sendiri karna aku tak melihat kebersamaan, aku hanya melihat kesendirian. Begitupun di ujung jalan sini aku melihat aku sendiri.
Kini aku bergegas meninggalkan jalan ramai ini, aku ingin kembali untuk pergi melihat tawa ku lagi, tawa kita , tawa mu. Salam sang musafir.

Rabu, 14 Desember 2016

Keadilan

Menurut KBBI "KEADILAN" adalah sifat (perbuatan, perlakuan, dan sebagainya) yang adil: dia hanya mempertahankan hak dan ~ nya; Pemerintah menciptakan ~ bagi masyarakat;~ sosial kerja sama untuk menghasilkan masyarakat yang bersatu secara organis sehingga setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan nyata untuk tumbuh dan belajar hidup pada kemampuan aslinya;

Perlu dipahami keadilan adalah perbuatan, perlakuan, dsb, yang mempunyai makna bahwa sebuah tindakan, berbeda dengan makna adil yang bukan sebuah tindakan. Terkadang kita berbicara tentang keadilan tapi hanya sebatas adil, tidak mengerti tentang arti keadilan. Keadilan terasa ketika kita bersangka bahwa kita memiliki perasaan lega atas sebab dari sebuah perbuatan.





Mari kita merenungi keadilan, keadilan adalah tindakan yang dilakukan dengan mengkesampingkan suku, dan kepentingan antar golongan, adil juga bukan berbicara sama rata - sama rasa, namun adil adalah makna yang perlu dipertimbangkan. Manusia adalah mahluk yang sering meminta tentang keadilan namun bukan mahluk yang betul-betul berbuat adil, terkadang kita merasa adil kepada orang yang lebih kita kenal, namun apakah itu sebuah keadilan?, saya menulis ini karna saya tersentuh pada fenomena hari-hari ini, apakah Hakim adalah manusia yang betul-betul adil? menjatuhkan hukuman terhadap orang yang melanggar hukum, sedangkan kita tahu hukum dibuat oleh perundingan manusia elit dan orang-orang yang mengaku sebagai wakil rakyat, namun apakah kita pahami, rakyat mana yang meraka wakili? ataukah golongan mereka yang mereka wakili?. Salam sang musafir



Rabu, 23 November 2016

Father's Love Letter


My Child,
You may not know me, but I know everything about you.(Psalm 139:1); I know when you sit down and when you rise up (Psalm 139:2); I am familiar with all your ways. (Psalm 139:3); Even the very hairs on your head are numbered.(Matthew 10:29-31); For you were made in my image. (Genesis 1:27); In me you live and move and have your being. (Acts 17:28); For you are my offspring. (Acts 17:28); I knew you even before you were conceived. (Jeremiah 1:4-5); 
I chose you when I planned creation. (Ephesians 1:11-12); You were not a mistake, for all your days are written in my book. (Psalm 139:15-16); I determined the exact time of your birth and where you would live. (Acts 17:26); You are fearfully and wonderfully made. (Psalm 139:14): I knit you together in your mother's womb. (Psalm 139:13); And brought you forth on the day you were born. (Psalm 71:6); 
I have been misrepresented by those who don't know me. (John 8:41-44);
I am not distant and angry, but am the complete expression of love. (1 John 4:16); And it is my desire to lavish my love on you. (1 John 3:1); Simply because you are my child and I am your Father. (1 John 3:1);
I offer you more than your earthly father ever could. (Matthew 7:11);
For I am the perfect father. (Matthew 5:48);
Every good gift that you receive comes from my hand. (James 1:17); For I am your provider and I meet all your needs. (Matthew 6:31-33); My plan for your future has always been filled with hope. (Jeremiah 29:11); Because I love you with an everlasting love. (Jeremiah 31:3); My thoughts toward you are countless as the sand on the seashore.(Psalms 139:17-18); And I rejoice over you with singing. (Zephaniah 3:17);
I will never stop doing good to you. (Jeremiah 32:40); For you are my treasured possession. (Exodus 19:5); I desire to establish you with all my heart and all my soul. (Jeremiah 32:41); And I want to show you great and marvelous things. (Jeremiah 33:3);
If you seek me with all your heart, you will find me. (Deuteronomy 4:29); Delight in me and I will give you the desires of your heart. (Psalm 37:4); For it is I who gave you those desires. (Philippians 2:13); I am able to do more for you than you could possibly imagine. (Ephesians 3:20); 
For I am your greatest encourager. (2 Thessalonians 2:16-17);
I am also the Father who comforts you in all your troubles. (2 Corinthians 1:3-4); When you are brokenhearted, I am close to you. (Psalm 34:18);
 As a shepherd carries a lamb, I have carried you close to my heart. (Isaiah 40:11); One day I will wipe away every tear from your eyes. (Revelation 21:3-4); And I'll take away all the pain you have suffered on this earth. (Revelation 21:3-4); I am your Father, and I love you even as I love my son, Jesus. (John 17:23); For in Jesus, my love for you is revealed. (John 17:26); He is the exact representation of my being. (Hebrews 1:3); He came to demonstrate that I am for you, not against you. (Romans 8:31); And to tell you that I am not counting your sins. (2 Corinthians 5:18-19); Jesus died so that you and I could be reconciled. (2 Corinthians 5:18-19); His death was the ultimate expression of my love for you. (1 John 4:10); I gave up everything I loved that I might gain your love. (Romans 8:31-32); If you receive the gift of my son Jesus, you receive me. (1 John 2:23); And nothing will ever separate you from my love again.(Romans 8:38-39);
Come home and I'll throw the biggest party heaven has ever seen. (Luke 15:7); I have always been Father, and will always be Father. (Ephesians 3:14-15); My question is…Will you be my child? (John 1:12-13); I am waiting for you. (Luke 15:11-32)

Selasa, 22 November 2016

Mengecap

Berbicara tentang rasa, sebenarnya saya tidak mengetahui pasti apa yang disebut dengan rasa, ada senang, sedih, marah, bangga dan kalut. Rasa punya artinya sendiri; manis, kecut, pahit, tergantung objek apa yang kita dapat.
Objek sendiri tidak hanya melulu pada makanan, suasana dan keadaan juga dapat berarti sebagai objek. Suasana membuat suatu rasa yang berbeda, suasana bisa membuat kita meluapkan emosi, tergantung apa yang kita alami.
Suasana adalah objek yang berkaitang dengan kejadian eksternal, kejadian eksternal yang kita jalani juga dipengaruhi dari hukum sebab-akibat, apa yang kita lakukan dimasa lampau akan kita tuai dimasa sekarang.
Suatu motto yang membuat hidup saya merasa lebih berarti adalah "Memaknai waktu yang diberikan Tuhan" , karna apapun situasi yang sedang kita alami mempunyai maknannya tersendiri, terkadang kita juga perlu belajar dari makna sebuah situasi, makna dari sebuah sebab, apakah sebab itu berfaedah atau malah merugikan. Saya mengajak diri saya sendiri dan anda untuk pandai memahami rasa, pandai mengecap rasa agar kita tidak buta dengan rasa. Salam

Minggu, 30 Oktober 2016

Suara Pepohon,

Malam dingin menggambarkan kesunyian,
Bersama gurau angin dalam kegelapan,
Hanya pohon rindang saja sendiri menemai,
Beriringan suara jauh kedalam aliran membungkus darah,
Aliran kehidupan melewati kekelaman menuju jantung,
Itulah aliran kehidupan, aliran jiwa dan suara hati,
Suara merdu, suara detakan nadi.

Daun yang gugur, terjun dari atas ke tanah,
Daun yang tak berkata tentang rasa,
Daun yang hilang dengan raut yang gundah,
Daun yang dulu seperti daun yang penuh nuansa,
Daun itu diam, sekali lagi tak tampak marah,
Daun itu senyap, sekali lagi melewati masa,
Daun itu tak payah melewati hati yang gelisah.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kenangan yang terlupakan

Apakah “Memaafkan” sama dengan “Mengampuni “?. Terkadang setiap manusia mempunyai keinginannya tersendiri, apa yang menjadi hak orang lain seolah kita renggut, kita merasa senang ketika apa yang kita mau terhadap orang lain itu telah dilakukan. Apakah kita berfikir apa yang seharusnya menjadi hak orang lain?
Setiap orang punya kenangan masalalu-nya masing-masing, kita juga punya masalalu kita yang mungkin masih bisa kita ingat, baik tentang kenangan-kenangan indah; kenangan-kenangan sedih; serta kenangan-kenangan menyenangkan kita. Kenangan masalalu kita ada pula yang terasa pahit dan terkadang kita terasa tersakiti. Kenangan pahit yang selalu kita ingat itu yang menjadikan kita tidak dapat bergerak bebas terhadap orang yang menyakiti kita. Kita selalu merasa ada kesenjangan terhadap kita dan  orang yang menyakiti kita.

Kesenjangan yang kita rasakan adalah merupakan wujud perilaku kita yang belum bisa memaafkan orang lain.
"Oww, tidak! Aku sudah bersalaman dan memaafkan dia kok?, tapi aku tidak ingin bertemu dengannya lagi".

Memaafkan adalah perbuatan yang lebih cenderung kepada kegiatan sesaat, namun seharusnya kita juga bersikap continue , atau memaafkan yang berkelanjutan tanpa melihat kesalahan orang di masalalu, memaafkan yang berkelanjutan memang sulit namun itu semua adalah proses, setiap orang punya proses waktunya sendiri untuk melupakan sakit hatinya, dan ketika kita sudah dapat melupakannya itu berarti kita sudah bisa mengampuni orang lain.

Begitu pula apa yang terjadi dengan dosa, dosa adalah perilaku kita yang menyakiti hati Tuhan, ketika kita ingin agar Tuhan melupakan kesalahan kita seharusnya kita juga mau melupakan kesalahan orang lain terhadap kita. Biarlah kita merenung sejenak seberapa lamakah proses Tuhan untuk melupakan kesalahan kita?, seandainya waktu kita sudah habis apa yang akan terjadi bila Tuhan belum melupakan kesalahan kita karna kita belum melupakan kesalahan orang lain dan mengampuni mereka?, emm mungkin semua kesalahan biarlah jadi kenangan, ya! kenangan yang terlupakan, salam.

Jumat, 14 Oktober 2016

Desa Sendang Biru

Sendang Biru
Sungai berwarna biru yang dimanfaatkan untuk PDAM di desa itu menjadi salah satu ciri khas dan cikal bakal nama desa. Di desa ini terhampar luas jajaran bukit dan karang, jalannya cukup epik untuk dilalui, pemandangannya pun sangat mengesankan. Merupakan salah satu tujuan wisata pantai di Malang Selatan ialah desa Sendang Biru.

Jembatan Bajul Mati
 
Jembatan yang sangat mengesankan menghubungkan jalan diatas sungai air payau itu bernama "Jembatan Bajul Mati" , Bajul Mati merupakan bahasa jawa yang berarti Buaya yang Mati, saya kurang mengetahui mengapa jembatan itu dinamai Bajul Mati? namun kata penduduk setempat bajul mati itu sebutan untuk pemandangan batu karang yang menyerupai buaya yang terlihat dari atas jembetan tersebut.

Tiang Penyangga - Bajul Mati
Tiang Penyangga Jembatan
Pulau Sempu

Pulau tersendiri di luar jawa timur namun masih dalam kabupaten malang selatan itu disebut "Pulau Sempu", untuk menuju ke pulau Sempu kita perlu menempuh perjalanan 15 menit ke bibir, pantai dimana disitu terdapat pos penjagaan Polisi Hutan. Sebenarnya pulau ini adalah cagar alam dan tempat untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan, karena itu pulau ini dijaga oleh pihak pemerintah kabupaten Malang Selatan. Menurut kabar di pulau ini masih terdapat binatang buas seperti macan tutul dkk. Di bibir pantai kita harus menaruh Kartu Tanda Penduduk sebagai jaminan dan tanda lapor kepada pihak petugas Polhut, oh ya disini juga ada orang-orang yang menyewakan sepatu semi boot, untuk orang-orang yang hendak menyusuri pulau sempu. Setibanya di pulau sempu keseruan mulai terasa ketika kita menyusuri hutan sempu, di hutan ini kita akan melalui bukit serta ranting-ranting pohon yang berhampar, kita juga akan melewati jurang dengan dasar hamparan laut yang luas. Tidak cuma disitu setelah melalui semua itu kita akan menjumpai pantai kecil serasa private beach, yang bernama "Segoro Anakan", sebenarnya perjalanan dari pos sandar kapal menuju Segoro Anakan sekitar 4 jam perjalanan, namun karena kami masih berkeadaan fit kami hanya berjalan sekitar 3 jam perjalanan.
Segoro Anakan
Menuju Ke Pulau Sempu

Mendarat Ke Pulau Sempu

Pantai Sendang Biru

Di desa ini perayaan tahun baru sangat terasa, kala itu sekitar tahun 2014-2015 kami bersama-sama mengunjungi kerabat dari teman kami, dari Surabaya pagi-pagi buta kami beranjak untuk mengendarai motor, kami berempat menuju ke malang selatan dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 4 jam , menyusuri jalan raya berbelok-belok melewati kota dan pedesaan, jalan ramai dan jalan sepi, lampu merah dan jalan lurus.
Jalan tanjakan terakhir di desa sendang biru ada toko kelontong milik kerabat teman kami. "Om" kami memanggilnya, ia memiliki 1 anak perempuan dan 1 anak laki-laki, tinggal berempat satu rumah. setibanya disana kami disediakan makanan, wow! daging enak buat kita makan bersama. Om dan tante menyediakan kami kamar untuk kita bermalam.

Rasa capek setelah perjalanan jauh dari Surabaya kami hilangkan dengan tidur siang di tempat om dan tante, tidak terasa hari mulai sore, kami beristirahat untuk hari esok perjalanan ke pulau sempu. Matahari mulai muncul kembali namun kini mulai turun hujan, kami mulai mengurungkan niat menuju pulau sempu, namun tidak beberapa lama hujan mulai reda, kamipun bersemangat kembali untuk menyusuri pulau sempu. Agenda ke pulau Sempu dan Segoro Anakan pun terlaksana, pulang ke rumah om sekitar pukul 18.00 Wib, sampai disana kami istirahat kembali menunggu pagi kembali.

Pantai Gua Cina Sore Hari
Pengalaman yang menyenangkan ketika bisa bertemu dengan om dan tante, kami serasa mempunyai keluarga baru, tinggal bersama dalam satu atap bersama keluarga om dan tante, kami merasakan hangatnya tinggal bersama keluarga. Hemm hari kembali pagi, kami bangun untuk mandi dan makan bersama om dan tante , hari itu kami berjalan menyusuri pantai bersama om dan anak laki-lakinya yang berumur 3 tahunan. om dan anaknya menjadi pemandu kami, perjalanan kali ini kita menyusuri beberapa pantai yang di desa ini , pantai sendang biru, pantai gua cina, pantai bajul mati dan beberapa pantai yang sangat mengasikan.
Sendang Biru



Keasikan kami dari pagi hingga sore belum berakhir, kami dan om berangkat menuju ke tempat penjualan ikan , atau disebut tpi (tempat pelelangan ikan) oleh warga setempat, kami membeli sekitar 2 kg ikan tongkol yang masih fresh dari laut. Setelah membelinya kami bergegas pulang untuk merayakan malam tahun baru, setelah kami madi dan bersih diri, kami beranjak membantu om dan tante membuat sajian masakan ikan tongkol, om menyiapkan arang dan api, kami menyiapkan bumbu bawang, dan tante yang meraciknya. Kami membaka ikan tongkol tadi dan sambil bercengkrama melihat anak om bermain kembang api, pengalaman yang mengesankan di desa ini, dan mungkin tidak akan kami lupakan desa sendang biru.


Pantai Bajul Mati
Ikan Tongkol
Hari kian berlalu, kini waktunya kami untuk pulang ke Surabaya meninggalkan desa Sendang Biru di daerah Malang Selatan ini, kami berempat bersalaman dan pamit sama
om dan tante, sampe jumpa lagi ya om dan tante moga kita bisa ketemu lagi ya.


Rabu, 12 Oktober 2016

Perjalanan Sang Musafir

Hai semua, salam dari sang musafir. Hari ini saya memulai tulisan baru saya setelah lama tidak menulis kembali. Ini blog pertama saya tentang cerita saya, tentang apa yang ingin saya bagikan untuk kalian. Sebelumnya saya memang pernah membuat blog namun tidak pernah ada tulisan yang berkelanjutan.
Di tulisan kali ini, aku hanya mau menyapa dan memperkenalkan diri kepada kalian, "hai, apa kabar semua?" semoga baik-baik saja ya!, amin.
Mungkin aneh juga mengapa saya menyampaikan salam dari sang musafir?, Ya! karena saya mencoba untuk berfilosofi, karena hidup kita adalah sebuah perjalanan, sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan kemungkinan yang belum kita ketahui di hari esok. Musafir adalah sebutan seorang pejalan yang menempuh jarak yang jauh, seperti hidup kita yang menempuh jalan yang jauh. Dalam hidup ini musafir tidak pernah tahu apa yang terjadi di hari esok, namun musafir bukanlah seseorang yang tidak punya arah hidup, musafir adalah seseorang yang mempunyai tujuan untuk melangkahkan kemana kaki mereka menuju.
Untuk itu aku mengajak kamu semua untuk menetapkan tujuan dalam hidup, tujuan untuk hari-hari baru dengan penuh perjuangan.
Setiap orang punya harapan-nya masing-masing, apa yang kamu harapkan hari ini wujudkanlah langkah demi langkah, lakukan yang terbaik dengan semangat, perjuangan, dan ketabahan, karna perjalanan sang musafir masih panjang. Salam.